Selasa, 16 April 2013

analisis kasus pembunuhan preman di cebongan


Nama              :Rasyidin
NIM                : 11410081
Kelas               : Psikologi A
“Tugas UTS”
Reaksi Spontan Karena Serka Heru Santoso Dibunuh Secara Biadab
Pelaku Pembunuhan 4 Tahanan LP Cebongan Adalah Oknum Kopasssus
*Tim Investigasi Tegaskan yang Tewas di LP Sleman Preman Jakarta
Tim investigasi TNI AD menemukan fakta mengejutkan. Ternyata, pelaku penyerangan dan pembunuhan 4 tahanan LP Cebongan adalah Kopassus. "Serangan ke lapas 2 cebongan 23 maret 2013 pukul 00.15 wib diakui dilakukan oleh oknum anggota TNI angkatan darat dalam hal ini grup 2 kopassus Kartusuro yang mengakibatkan terbunuhnya 4 tahanan preman," kata ketua tim investigasi, Brigjen TNI Unggul K Yudhoyono dalam jumpa pers di Kartika Media Center, Jl Abdurahman Saleh, Jakpus, Kamis (4/4/2013).
Para pelaku sudah mengakui perbuatannya. Mereka melakukan hal ini dilandasi oleh rasa solidaritas tinggi atas rekannya yang tewas oleh para tersangka. Ketua Tim Investigasi Wadan Puspom AD Brigjen TNI Unggul K Yudhoyono menyebutkan, prajurit TNI secara ksatria mengakui sebagai pelakunya. "Menjadi catatan khusus, para pelaku secara kstaria mengakui perbuatannya sejak hari pertama penyelidikan," kata Unggul dalam jumpa pers di Kartika Media Center, Jl Abdurahman Saleh, Jakpus, Kamis (4/4/2013).
Unggul mengungkapkan bahwa penyelidikan ini dilakukan dalam 6 hari. Pelaku mengaku dengan jujur perbuatannya, sejak hari pertama penyelidikan. "Penyelidikan dilandasi dengan kejujuran dan transparan," tuturnya. Unggul juga menegaskan, bahwa pelaku merupakan anggota TNI AD dari Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan Kartasura. "Pelaku siap mempertanggung jawabkan apapun resiko atas dasar kehormatan prajurit ksatria," tambahnya seperti dilansir detikcom.
11 OKNUM
Hasil investigasi TNI AD memastikan aksi penyerbuan ke LP Cebongan dilakukan oleh 11 oknum prajurit anggota Grup II Kopassus TNI AD yang bermarkas di Kandang Menjangan, Kartasura. Enam pucuk senjata api yang digunakan pelaku terdiri dari sebuah pistol otomatis dan lima senapan mesin. "Terdiri dari tiga AK-47 yang dibawa dari daerah latihan, dua AK-47 replika dan satu pistol Sig Sauer," ungkap Wadan POM, Brigjen Unggul K Yudhoyono, di ruang Dinas Penerangan TNI AD, Jl. Abdurrahman Saleh I, Jakarta Pusat, Kamis (4/4/2013).
Daerah latihan yang dia sebutkan, adalah lokasi latihan di Gunung Lawu. Sebelumnya oleh Unggul disebutkan bahwa tiga dari 11 orang pelaku datang dari daerah latihan dan masing-masing membawa senapan AK-47.


 
Dari 11 oknum Kopassus yang melakukan penyerangan, hanya satu eksekutor. "Peristiwa penyerangan Lapas IIB Cebongan melibatkan anggota Kopassus sebanyak 11 orang, yang terdiri dari 1 eksekutor yang berinisial U," kata Unggul K Yudhoyono. Di antara 11 orang itu, 8 orang sebagai pendukung dengan menggunakan kendaraan Avanza biru dan APV hitam. Di antara 11 orang tersebut terdapat tiga prajurit dari yang sedang berlatih di Gunung Lawu.

TIDAK TERENCANA
Ketua tim investigasi juga menegaskan, penyerangan tersebut tidak terencana. "Jadi itu tindakan reaktif dan tidak direncanakan," kata Ketua Tim Investigasi Wadan Puspom AD Brigjen TNI Unggul K Yudhoyono. Menurut Unggul, tindakan tersebut hanya reaksi spontan karena ada kedekatan pelaku dengan Serka Heru Santoso yang dibunuh oleh 4 preman tersebut secara sadis, tragis dan brutal. "Itu memang tindakan reaktif secara spontanitas yang memang dilandasi jiwa korsa yang begitu besar," katanya.
Apalagi eksekutor berinisial U merasa utang budi kepada almarhum Serka Heru Santoso.  "Apalagi mungkin dia merasa satu nasib sepenanggungan dan satu komando, mantan atasan langsung dan yang bersangkutan merasa berutang budi karena pada saat operasi pernah diselamatkan oleh almarhum," tandasnya.
Meski demikian, Unggul menyebut, penyerangan ke LP tersebut merupakan bentuk penerapan jiwa korsa yang salah.
GERAM
Oknum Kopassus U menjadi tersangka utama. Dia menjadi eksekutor dalam pembunuhan 4 tersangka kasus pembunuhan Serka Heru Santoso. U turun dari Gunung Lawu lokasi latihan bersama rekan-rekannya. "Jadi secara singkat saja, beberapa orang ini sedang latihan di Gunung Lawu, kemudian dapat kabar berita ada salah satu anggota Kopassus meninggal karena dikeroyok, dibunuh secara biadab," jelas Ketua Tim Investigasi.
Mereka pun membawa senjata api dari tempat latihan. "Karena rasa jiwa korsa yang tinggi, dia secara spontan bereaksi turun ke bawah mengajak sebagian teman-temannya, tidak semua," terangnya. Unggul menegaskan, karena jiwa korsa yang tinggi, apalagi mendengar terjadi penganiayaan secara tragis dan brutal, sehingga itu yang mereka lakukan. "Sementara itu yang saya temukan belum ada unsur perencanaan," tegasnya.
Tim investigasi TNI AD menyatakan ada kendaraan yang berusaha mencegah aksi penyerangan Kopassus ke LP Cebongan. Namun aksi itu gagal. "Dua orang menggunakan 1 unit kendaraan Feroza yang berusaha mencegah tindakan tersebut. Namun ternyata tidak berhasil," kata Unggul.

YANG TEWAS PREMAN
Ketua Tim Investigasi Wadan Puspom AD Brigjen TNI Unggul K Yudhoyono menyebut tegas 4 orang yang tewas di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta, adalah preman. Kata preman itu disebut dengan intonasi tegas. "Secara ksatria dan dilandasi kejujuran yang tinggi serta bertanggung jawab serangan ke Lapas pada 23 Maret 2013, pukul 00.15 WIB, diakui oleh oknum anggota TNI AD yang mengakibatkan 4 tahanan preman tewas," jelas Unggul.
Peristiwa penyerangan ke Lapas Cebongan, lanjut Unggul merupakan pembunuhan terhadap preman yang menganiaya Serka Heru Santoso dan juga adanya pembacokan terhadap Sertu Sriyono, yang salah satunya adalah mantan anggota Kopassus. "Bermotif  tindakan reaktif karena kuatnya korps," tegas Unggul.
Dalam serangan itu, pelaku mengambil, membakar dan membuang CCTV beserta rekamannya untuk menutupi jejak mereka. Rekaman CCTV itu sendiri sudah dibuang ke Sungai Bengawan Solo. Sementara itu tentang oknum Kopassus yang menyerbu LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta sempat berpura-pura membawa surat palsu peminjaman tahanan, Kadispen AD memastikan tidak ada. "Untuk surat bon pinjam tahanan itu hanya mob saja (gertak-red). Saya pastikan itu tidak ada," kata Kadispen AD Brigjen Rukman Ahmad dalam jumpa pers Kantor Dispen TNI AD, Jl Abdurahman Saleh, Jakarta, Kamis (4/4/2013) itu.
Menurut dia juga, amat sangat mustahil kalau Angkatan Darat membawa surat pinjaman dengan stempel polisi. Jadi sama sekali tidak benar ada surat itu. "Sepertinya itu mustahil bila AD bawa surat pinjaman tahanan dengan stempel polisi," imbuhnya. Menurut dia juga, aksi ini dilakukan malam hari dengan jumlah pasukan yang sedikit. "Jadi kalau pasukan yang terlatih itu gerakannya cepat," tuturnya.
DIPROSES PUSPOM TNI AD
Para pelaku penyerangan LP Cebongan, Sleman, sudah diproses hukum. Mereka kini ditangani oleh Puspom TNI AD. "Atas dasar dari hasil investigasi, proses hukum selanjutnya akan segera dilaksanakan oleh Puspom AD," kata ketua tim investigasi TNI AD, Brigjen TNI Unggul K Yudhoyono.(int/detikcom)

ANALYSIS OF THE CASE
Based on that case, can the analysis in psychology that murder case 4 thugs by TNI AD koppasus persons can we associate with affiliates of murray's theory of need. Murray argued the need for affiliation is closer cooperation or reply to call other people who were, or making love to and seek affection from the preferred objects, wayward da loyal to a friend. Affiliates are in a relationship and getting along with others meliki friends and join groups, the need to make new friends, form friendships and form a strong bond.
From the above it can be concluded that the case, the motive of the murder by one of the members of the TNI AD the initials U is a case of revenge, because the question had previously been in the please please victims, and the perpetrators feel indebted to her.
Judging from persfektifnya freud, freud mentioned that in that case there is encouragement thanatos is aggressive behavior. The Target must be met, namely the executors do murder.
If the theory of skinner's reinforcement (reinforcement). The principal executor got reinforcement from him not from other people, the perception may be arising from the principal executor is thugs to be killed, then strengthening in him will do the killing without any coercion of others.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar